Home » Hubungan Bilateral » Kerjasama Bilateral

Kerjasama Bilateral

Kerjasama Bilateral

 

 sudan_43-1969px

HUBUNGAN BILATERAL
  1. Sejarah Singkat Hubungan Bilateral
Hubungan Indonesia dan Sudan telah terjalin sejak Indonesia belum merdeka atau sekitar tahun 1910-an dimana seorang ulama besar Sudan, Syeikh Ahmed Surkati datang ke Indonesia dan kemudian mendirikan yayasan Al Irsyad yang hingga kini masih eksis berkiprah di dunia pendidikan dan dakwah agama Islam. Hubungan tersebut diperkuat dengan keikutsertaan delegasi Sudan dalam delegasi Mesir pada Konferensi Asia Afrika (April 1955) di Bandung meskipun pada saat itu Sudan masih berjuang untuk mencapai kemerdekaannya dari protektorat Mesir–Inggris. Pemimpin pejuang Sudan, Ismail Al Azhari dan rombongan, oleh Presiden RI Soekarno, kemudian diberi bendera (berupa kain / sapu tangan berwarna putih bertuliskan kata SUDAN). Setahun kemudian, 1 Januari 1956, Sudan merdeka dan Al Azhari menjadi Presiden Pertama Sudan.Hubungan diplomatik Indonesia dan Sudan pertama kalinya terjalin sejak tahun 1960 dengan dibukanya Perwakilan RI di Khartoum pada tingkat Kuasa Usaha. Namun pada tahun 1967 Perwakilan RI tersebut ditutup karena alasan finansial dan selanjutnya dirangkap dari KBRI Cairo.tanggal 6 Januari 1996, Pemerintah Indonesia membuka kembali perwakilannya di Khartoum pada tingkat Kedutaan Besar RI dan mengangkat Drs. Andi Sjamsu sebagai Duta Besar RI Pertama di Sudan.Secara resmi Kedutaan Besar Sudan di Jakarta (sebelumnya dirangkap dari Kedubes Sudan di Kuala Lumpur) dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Sudan, Ali Ahmad Sahlool pada tanggal 24 Januari 1993.
  1. Kerjasama dan Hubungan Politik
Dalam konteks hubungan internasional di forum PBB, sewaktu Indonesia menjadi anggota tidak tetap DK PBB periode 2007-2008, Indonesia memberikan dukungan yang cukup besar pada berbagai permasalahan di Sudan terutama terkait dengan isu Darfur dan hubungan Sudan-ICC. Bentuk dukungan yang lain pada upaya menciptakan perdamaian menyeluruh di Sudan adalah pelibatan 20 Pamen TNI pada misi UNMIS (United Nation Mission in Sudan) di wilayah Sudan Selatan dan 144 personil Polri (1 FPU) pada misi UNAMID (United Nations – African Union Mission in Darfur) di wilayah Darfur.
  1. Kerjasama Ekonomi, Perdagangan dan Investasi
Kerjasama ekonomi Indonesia–Sudan dilaksanakan berdasarkan persetujuan–persetujuan yang telah ditandatangani pada Sidang Komisi Bersama Indonesia-Sudan tanggal 9 – 10 Februari 1998 di Khartoum.Persetujuan tersebut adalah antara lain Persetujuan Kerjasama Perdagangan, Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda dan Persetujuan Peningkatan dan Perlindungan Investasi.
Dari kunjungan Presiden RI, Abdurahman Wahid ke Sudan pada 28 Februari – 1 Maret 2001 disepakati Nota Kesepahaman mengenai Pembentukan Komisi Bersama Tingkat Menteri RI – Sudan. Pada sidang ke-I Komisi Bersama Tingkat Menteri Indonesia – Sudan pada 22–23 Juli 2002 di Jakarta telah ditandatangani sejumlah MoU di berbagai bidang yaitu :

  • Mou on the Cooperation in the field of Research, Science and Technology;
  • GuidelinesReffering to Protection, Ownership and Allocation of Intellectual PropertyRights by Participant in Cooperative Activities in the field of Science, Research and Technology;
  • MoU and Agricultural and Animal Resources Cooperation;
  • Work Plan and MoU on Agriculturaland Animal Resources;
  • Agreement of the Establishment of joint Business Council Between Indonesia and the Sudan;
  • Initial MoU Regarding Cooperation and Exchange of Information between Bank of Indonesia and Bank of Sudan .

Indonesia merupakan urutan ke-16 sebagai eksportir ke Sudan setelah Arab Saudi, China, UAE, Jerman, Inggris, India, Jepang, Bahrain, Italia, Perancis, Australia, Korsel, Belanda dan Turki.
Letak geografis Sudan memungkinkan menjadi pintu gerbang bagi masuknya berbagai produk Indonesia ke sejumlah negara tetangga Sudan yang tidak memiliki akses langsung ke pelabuhan laut (land lock) antara lain : Chad, Afrika tengah, Uganda, Congo dan Ethiopia.

  1. Kerjasama Sosial Budaya dan Pariwisata
Di bidang budaya dan pariwisata, KBRI Khartoum berperan serta dalam berbagai kegiatan promosi sosial budaya. Sedangkan kerjasama di bidang pendidikan Indonesia – Sudan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Selain peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Sudan, kunjungan pejabat tinggi bidang pendidikan kedua negara juga memperlihatkan kemajuan yang cukup berarti. Sejak kunjungan Menteri Agama RI, Drs. KH. Muhammad Tholchah Hassan  ke Sudan pada tahun 2000 dibahas peningkatan kerjasama pendidikan.
 
Sebagian besar mahasiswa Indonesia di Sudan mengambil program S-1 atas beasiswa pemerintah Sudan di Universitas Internasional Afrika (IUA). Universitas lain yang menyediakan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia adalah Khartom International Institute for Arabic Language (KIIFAL) yang menyediakan beasiswa program S-2 bagi 2 – 4 mahasiswa Indonesia per tahun, Universitas Al Quran Al Karim yang menyediakan 3 beasiswa pascara sarjana untuk utusan Universitas Islam Assyafiiyah Jakarta, IAIN Arraniry, dan PB NU. Selain mahasiswa yang datang dari Indonesia, juga terdapat beberapa mahasiswa Indonesia asal Kairo yabng melanjutkan studi Program S-2 maupun S-3 di Sudan. Pemerintah Sudan berkeinginan juga agar kerjasama pendidikan tinggi kedua negara tidak saja di bidang pendidikan agama Islam dan bahasa Arab namun diperluas ke bidang-bidang pendidikan umum lainnya dan teknologi.
 
Masalah yang dihadapi mahasiswa Indonesia di Sudan antara lain iklim yang keras, biaya hidup yang tinggi, minimnya fasilitas perpustakaan dan fasilitas pendidikan yang disediakan kampus.
Di bidang olahraga, Menbudpora Sudan, H.E. Moh. Yousif Abdalla pada tanggal 20-26 April 2009 ke Indonesia untuk memenuhi undangan Menpora RI. Pada tanggal 21 April 2009 berhasil ditandatangani MOU di bidang kepemudaan dan olahraga antara kedua negara.

Sumber: Kemenlu

Leave a Reply

Copyright © 2016 · Embassy of Sudan · All Rights Reserved · Posts · Comments